www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

www.tatakota-palangkaraya.net www.tatakota-palangkaraya.net

Pengawasan & Pengendalian Perkotaan

Pengawasan dan Pengendalian Perkotaan melalui penertiban Ijin Mendirikan Bangunan, Situ dan Reklame dan pengawasan Bangunan,

Read more

Kegiatan Penghijauan Jalan

Kegiatan penghijauan jalan, merupakan salah satu kegiatan yang di fungsikan agar kota Palangka Raya tetap bebas dari polusi udara dan tetap terlihat asri dan memiliki suasana yang teduh.

Read more

Pengawasan Sarang Burung Wallet

Pengawasan sarang burung wallet adalah satu bentuk dari kegiatan penataan kota Palangka Raya agar tercapainya penataan kota yang rapi dan jauh dari polusi.

Read more

Taman Kota

Tanggal 25 April 2009 yang lalu Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, telah menurun berita mengenai rencana Pemerintah Kota untuk menata kembali kota Palangka Raya. “Pemerintah Kota Palangka Raya dalam waktu dekat akan menata kembali Kota Palangka Raya. Selain, menata, pemerintah kota akan membangun fasilitas umum untuk warga melepaskan lelah”. Harian Kalteng Pos yang juga biasa disebut Kapos selanjutnya menulis bahwa pernyataan Walikota HM Riban: “Kita melihat bahwa salah satu daya tarik Kota Palangka Raya selain gedung-gedung bertingkat, hotel berbintang, juga harus menyediakan tempat umum untuk warga melepas penat dan lain sebagainya. Dan hal itu menjadi prioritas kali tahun 2010”. Untuk mewujudkan hal itu, terang Riban, diperlukan lahan sekitar 14.66 hektar di sekitar jalan yang menghubungkan Jalanr RTA Milono dan G.Obos.

 

 

Barangkali yang dimaksudkan oleh HM Riban dengan “tempat umum untuk warga melepas penat dan lain sebagainya” adalah tempat yang berbentuk taman kota. Sebuah taman kota seluas 14.66 hektar. Mendengar keterangan Walikota Palangka Raya demikian, saya lalu membayangkan adanya sebuah kawasan hijau luas, dengan danau buatan untuk anak-anak bermain kapal-kapalan, suatu ruang di mana anak-anak dan orangtua mereka berlari-lari dengan rupa-rupa mainan, suara girang mereka menggaung hingga tepi cakrawala, di bawah kerindangan pepohonan di tengah Kota Palangka Raya dengan terik menyengat tubuh sejak jam 9:30 pagi lalu mereda sesudah pukul 16:00 sore saat matahari sudah menuju hulu-hulu ribuan sungai. Sedangkan gedung-gedung dengan jendela kaca mengkilat seperti Gedung Batang Garing di pusat kota dekat Bundaran Besar atau sebuah hotel berbintang yang sedang dibangun di jalan Damang Leman menghadap jalan protokol Imam Bonjol, bukanlah sesuatu yang terlalu membanggakan. Bukan ciri khusus sebuah kota. Gedung demikian terdapat di mana-mana. Ia bukan prioritas dibandingkan dengan memenuhi keperluan penduduk yang miskin hiburan dan tempat melalukan akhir pecan bersama keluarga di tempat yang nyaman jauh dari hiruk-pikuk kota, dan deru kendaraan. Apakah Palangka Raya dengan penduduk sekitar 500 ribu orang, dengan transpor kota yang minim, dengan situs-situs budaya tak terawat museum Balanga yang tak terurus serta miskin isi, sudah mampu menarik kunjungan para wisatawan sehingga memerlukan bangunan bertingkat dan hotel-hotel berbintang. Dilihat dari segi urgensi keperluan saya tidak melihat maknanya bangunan-bangunan demikian. Gedung Batang Garing banyak kamar-kamar kosong tak diefektifkan penggunaannya. Apalagi jika dilihat dari segi kelestarian lingkungan, saya mempertanyakan mengapa mesti membanggakan pembangunan gedung bertingkat dan hotel-hotel berbintang dengan jendela-jendela kaca yang menyilaukan hingga berdampak pada keadaan ozone. Hotel-hotel sederhana yang ada di Palangka Raya saja sekarang penangannya pun seperti kurang profesional baik dalam hal pelayanan mau pun dalam soal penampilan.

 

Penataan kembali kota, barangkali jauh lebih berarti bagi kepentingan publik. Kalau memang berorientasi dan berporos pada kepentingan publik, pada kesempatan penataan ulang kota, akan jauh lebih berarti pembangunan trotoar, mengatur ulang penyaluran air . Pembangunan trotoar akan memberi kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki, termasuk anak-anak dan orangtua mereka. Pengurusan ulang saluran air, akan mengurangi limpahan dan genangan air pada saat hujan deras yang membuat kaca kendaraan kabur oleh cipratan air sehingga dari segi keamanan berkendaraan mengandung resiko tinggi. Sementara kita tahun curah hujan di Palangka Raya cukup tinggi. Sehubungan dengan penataan ulang kota, barangkali akan lebih berguna dan membanggakan jika daerah hijau digalakkan, sehingga kota yang terik menjadi rindang dan rimbun. Dari segi keindahan, dengan bertambahnya kawasan hijau kota, barangkali Palangka Raya yang oto-proklamasi sebagai Kota Cantik bisa benar-benar menjadi kian cantik dan nyaman. Menjadi kota yang nampak sangat memoroskan diri pada kepentingan rakyat dalam pembangunan dan pengelolaannya, bukan hanya untuk pemilik kendaraan alias orang-orang kaya seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Dari tata kotanya, Paris, ibukota Perancis, yang entah berapa kali jauh lebih besar dari Palangka Raya, nampak benar sangat memperhatikan kepentingan mayoritas publik. Jalur sepeda disediakan. Trotoar lebar-lebar. Jalan dibersihkan tiga empat kali sehari. Disiram. Tempat pembuangan sampah disediakan di berbagai tempat. Penyaluran air rapi hingga hujan tidak membuat jalan banjir. Sampah, penyaluran air, dan trotoar yang agaknya kurang mendapat perhatian terasa mengurangi kecantikan “Kota Cantik” ini sehingga penamaan diri sebagai “Kota Cantik” seperti suatu kekenesan seorang perempuan yang mukanya penuh jerawat. Salah satu masalah utama dalam penataan kota, termasuk saat penataan ulang kota, saya kira, terletak pada pertanyaan kota dibangun untuk siapa, untuk apa, sebagai apa? Jawaban pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kota akan ditata dan ditata ulang. Masalah « cantik » dan « indah » pun tidak terlepas dari jawaban terhadap pertanyaan poros ini. Penataan kota, bukan hanya menyangkut pembangunan sebuah taman kota, tapi menyangkut permasalahan integral, termasuk masalah penataan sungai – soal yang agaknya sampai sekarang masih belum tersentuh. Padahal sungai menyediakan banyak kemungkinan untuk berbagai bidang : hiburan, penambahan sumber penghasilan, pemikat turis, tempat bersantai. Seoul, Paris, Köln, untuk menyebut beberapa contoh saja, barangkali merupakan acuan yang menarik dalam memberdayakan sungai sekaligus menambah indah sebuah kota. Karena pada dasarnya sungai itu indah. Kalimantan Tengah yang disebut sebagai Provinsi Ribuan Sungai mestinya bersyukur dianugerahi dengan ribuan sungai dan jenis-jenis pepohonan yang beragam di dalam hutan kita. Berbicara tentang hutan, saya teringat akan betapa Korea Selatan mengembangkan gunung-gunung dan lembahnya di didekat perbatasan dengan Korea Utara sebagai obyek wisata alam yang indah memikat. Cara bersyukur terbaik adalah bagaimana mendayagunakan secara efektif rakhmat ini sebagai bagian integral dari sebuah “master plan” kota.

 

Taman hanyalah salah satu titik belaka dari “master plan” tersebut. Sejauh pengetahuan saya, sampai sekarang, di Palangka Raya, tidak terdapat sebuah taman atau tempat hiburan apa pun. Akhir pekan penduduk kota berjubel ke Monumen Nilai Juang 1945, sementara Danau Tahai, dan tempat wisata yang terletak di Kereng, Bukit Batu, tidak terurus.

 

Taman Kota bukanlah hanya tempat melepaskan penat bagi penduduk. Sebagai bagian dari daerah hijau, di Paris taman-taman bermunculan, lengkap dengan air bersih yang bisa diminum langsung, kabin telepon, bangku-bangku tempat duduk jika penat berjalan, tempat orang berolahraga, anak-anak bermain-main, tempat orang menjemur diri dengan cahaya matahari, tempat orang belajar, tempat keluarga melalukan akhir pecan bersama, tempat menyelenggarakan pentas-pentas kesenian mulai dari konser, main akrobat, sampai ke pergelaran drama. Singkatnya taman mempunyai beragam fungsi dengan tujuan melayani keperluan penduduk kota. Taman-taman ini dipagar, dibuka dan ditutup pada jam tertentu. Diawasi oleh polisi kotapraja. Sejak beberapa tahun terakhir, bahkan sementara pagar taman yang terletak di pusat kota, dijadikan sarana penyelenggaraan foto berukuran 2 X 2,5 meter dengan tema-tema tertentu dan berlangsung selama dua bulan. Melalui tema-tema tertentu tersebut Senat, salah satu lembaga kekuasaan Perancis, yang mensponsori pameran, menyampaikan pesan-pesan edukatif kepada semua yang melihat pameran tersebut. Bahwa penyelenggara negara menaruh perhatian terhadap kesenian, bukanlah hal baru di Perancis. Beberapa presiden dan menteri sebelum turut mengelola Negara, mereka adalah penulis roman, penyair, esais dan ada juga yang penyanyi. Mereka adalah politisi yang berbudaya, dan budayawan yang mengerti politik. Pendekatan dan gaya berpolitik serta pendekatan politis yang berbudaya akan berbeda dengan politisi yang apresiasi budayanya kurang, dan tercermin dalam program kerjanya di segala bidang, termasuk pada tata kotanya.

 

Teringat akan pada Taman Luxembourg yang terletak di Kilometer Nol pusat kota Paris, yang mempunyai fungsi majemuk. Taman itu terdiri dari beberapa bagian. Ada bagian taman yang dibangun menggunakan model Taman Tiongkok, ada bagian yangdibangun menggunakan model Taman Inggris, dan tentu saja ada yang menggunakan model Taman Inggris. Penggunaan model-model taman yang diterapkan di Taman Luxembourg, memperlihatkan politik pintu terbuka perancang taman dan pemerintah Perancis dalam bidang kebudayaan, tanpa mengurangi ciri khas Perancis. Pembangunan taman, tidak luput dari corak politik kebudayaan yang dipilih oleh pemerintah kotapraja Paris.

 

Di bagian mana taman, berdiri pula berbagai patung dengan berbagai gaya dan aliran, sehingga taman tersebut sekaligus merupakan sebuah ruang luasdi mana kita bisa menikmati karya-karya para pematung Perancis. Masing-masing patung mempunyai latar sejarah tersendiri, sepertiRevousi Mei 1968, Revolusi 14 Juli 1789 melalui patung-patung tokoh yang terdapat di dalam ruang taman, sehingga taman pun menjadi sebuah buku sejarah berbentuk visual yang bisa dibaca dengan gampang oleh para pengguna taman. Dari segi ini, bisa dikatakan taman jadinya bukan sekedar tempat “warga melepas penat” tapi juga merupakan tempat rekreasi, dan bersifat edukatif. Mengingat sifat edutatif dan historis ini, maka saya kira ketika membangun sebuah taman, perlu memiliki sikap dan pandangan sejarah yang bertanggungjawab dan ilmiah. Patokan yang layak, saya kira adalah rangkaian nilai republiken dan berkiedindonesiaan karena Republik Indonesia sudah menjadi perekat berbangsa, bernegeri dan bernegara yang sudah disepakati bersama.

 

Karena Palangka Raya adalah ibukota Kalimantan Tengah, terlintas di benak saya, alangkah baiknya taman yang akan dibangun di Palangka Raya itu nanti bisa mencerminkan juga ciri budaya tipikal semua kabupaten diKalimantan Tengah. Taman itu dibangun berangkat dari ciri budaya-budaya (dalam arti majemuk bukan tunggal) Kalimantan Tengah.

 

Taman-taman merupakan keperluan penduduk Kalimantan Tengah, termasuk Palangka Raya. Sudah selayaknya dan sudah saatnya ia dibangun dan tentu saja tidak cukup hanya satu, apalagi mengingat Palangka Raya sebagai kotapraja mempunyai ruang geografis terbesar dibandingkan kotapraja-kotapraja lainnya di tanahair. Perencanaan danperancangan tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu orang saja, tapi oleh satu tim dari berbagai disiplin ilmu dengan harapan bahwa taman itu kelak benar-benar bisa mewakili Kalimantan Tengah dari segi budaya. Metode tiga pemaduan: pemaduan antara tenaga ahli, masyarakat dan pimpinan, barangkali ada gunanya jika dilakukan dalam pembangunan taman ini. Saya sedang membayangkan Palangka Raya benar-benar sebuah “Kota Cantik”, hijau, rindang, rimbun, teguh, dengan tatakota yang artistik. Kota yang nyaman untuk hidup dan memberikan semangat hidup. Mengapa tidak, pada suatu hari, di Palangka Raya dibangun TamanMini Kalimantan Tengah?***


 

 

PalangkaRaya, Mei 2009

Site Translate

Pemadam Kebakaran

Truck pemadam kebakaran yang tengah siap beroperasi

Read more

Rencana Penataan

Rencana Penataan Kawasan Ruang Terbuka Hijau Di Sepanjang Jalan Lingkar Dalam Kota Palangka Raya (Bundaran Burung – G. Obos) Kalimantan Tengah Tahun 2009

Read more

Pasar Kahayan

Pasar kahayan

Read more

Penataan kota

Penataan kota Palangka Raya menuju kota metropolitan yang bersih, rapi dan indah

Read more